Kamis, 10 Januari 2013

Usaha atau Bisnis Angkringan, kenapa tidak ?


 Bisnis angkringan yakni bisnis makanan yang dinikmati dengan duduk di lantai terus melakukan invasi ke kota-kota besar. Berasal dari bahasa jawa angkring punya arti duduk santai. 

Belakangan, angkringan justru lebih dikenal sebagai tempat jualan aneka makanan dengan gerobak dorong. Pembeli biasanya menikmati makanan di selembar tikar yang terhampar tak jauh dengan gerobak. 

Awalnya, angkringan banyak dijumpai di pinggir jalan di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Kini, bisnis angkringan ini telah berkembang di sejumlah kota di Indonesia termasuk Jakarta dan sekitarnya Beragam makanan yang dijual seperti nasi kucing, gorengan, sate usus (ayam), sate telur puyuh, keripik dan lain-lain.
Selain makanan, kita bisa juga menemukan aneka minuman seperti teh, jeruk, kopi, tape, wedang jahe dan susu. Semua makanan itu dijual dengan harga terjangkau. 

Kini, bisnis angkringan terus merambah ke daerah lain, salah satunya berkat tawaran kemitraan dari pebisnis ini. Apakah usaha ini masih menjanjikan? Berikut ulasan perkembangan usaha sejumlah kemitraan bisnis angkringan yang pernah diulas KONTAN. 

Sedikit penjelasan kenapa usaha / berbisnis angkringan :

 Kenapa Berbisnis Angkringan ? 
- Nasi & Minuman merupakan makanan utama masyarakat Indonesia
- Nasi bungkus & Wedang Jahe sudah sangat populer sebagai salah satu makanan khas Jawa
- Penduduk Jakarta identik dengan Jawa
- Usaha nasi angkringan  terkenal eksistensinya sejak lama

 Syarat Menjadi Franchise 
- Memiliki semangat untuk menjalankan bisnis Angkringan
- Berkomitmen untuk mengembangkan brand Angkringan ki Asem
- Memahami keuntungan dan resiko bergabung dengan bisnis Angkringan ki Asem
- Pernah mengunjungi gerai atau mencoba rasa produk Angkringan ki Asem
- Memiliki investasi dana yang cukup

Tahapan Menjadi Franchise  

 Tipe Outlet 
- Tipe 1 Full Outdoor (tenda knock down)
  Ukuran = 5 X 5 m2
  Jam Ops = Jam 16.30 – 02.30 Wib

- Tipe 2 Kombinasi Outdoor dan Ruko
  Ukuran = 28 m2
  Jam Ops = Jam 16.30 – 02.30 Wib
 
 Besar Investasi 
- Investasi awal sebesar Rp 15-20 Juta
- Franchise Fee untuk 1 tahun
- Royalty Fee per bulan 2% dari omset kotor
- Investasi belum termasuk kendaraan utk delivery, sewa tempat, renovasi dan cadangan modal ke
r
ja



Simulasi Keuangan 
 
TOTAL INVESTASI AWAL
Rp 20 juta
Pemasukan

Omset rata-rata per bulan
Rp 30 juta

Pengeluaran

Pemakaian bahan (75%)
Rp 22,5 juta
Gaji karyawan & upah makan (10%)
Rp 2 juta
Sewa tempat & operasional (7%)
Rp 1.5 juta
Penyusutan barang (4%)
Rp 1.2 juta
Royalty Fee (2%)
Rp 600 ribu

Net profit / bulan (20%)

Rp 2,2 juta

Return of Investment (ROI)

15 bulan


Menggiurkan bukan usaha atau berbisnis dengan angkrigan ?? selamat mencoba dan sukses selalu bagi anda yang ingin mencoba membuka angkrigan dan jangan lupa kasih gratis ya pada saat awal buka kepada saya, hehehehe.

Tempat Angkringan (Nasi Kucing) Fatmawati Yang Unik

Angkringan Nasi Kucing Fatmawati, termasuk salah satu angkringan pionir yang berperan penting dalam menjamurnya bisnis kuliner nasi kucing, hik, atau angkringan di Jakarta, dan dinobatkan sebagai Angkringan Terbaik Di Jakarta. Berikut 7 Keunikan dan alasannya, kenapa Angkringan Nasi Kucing Fatmawati menjadi angkringan yang terbaik di Jakarta.

  1. Bisnis kuliner kaki lima atau emperan, Angkringan Nasi Kucing Fatmawati merupakan salah satu yang langka (mungkin satu-satunya) dalam hal pelayanan terhadap pelanggannya. Pelayanan yang super hangat. Semua pelanggan Angkringan Nasi Kucing Fatmawati, pasti merasakan sensasi gelora persahabatan hangat yang kental dan sangat khas. Walaupun bagi pelanggan yang baru pertama mengunjungi tempat itu. Bagi anda yang anti-sosial, anti persahabatan, maka Angkringan Nasi Kucing Fatmawati bukanlah tempat yang cocok buat anda.

  2. Masih nyambung dengan poin diatas, sensasi kehangatan persahabatan di Angkringan Nasi Kucing Fatmwati, justru didapatkan dari ironi fisik. Maksudnya, para pengelola Angkringan ini adalah sosok-sosok yang secara tampilan adalah “sangar”. Para lelaki yang tegap, gagah, jelek serem, gondrong, dengan pakaian yang selalu berwarna hitam. Memang benar adanya kata pepatah yunani Inggris “Don’t Judge The Book by it’s cover”

  3. Dalam hampir semua bisnis kaki lima atau emperan, ada salah satu yang mengganggu kelangsungan operasional bisnis, yakni; keamanan atau preman, pungli dan sejenisnya. Dan Angkringan Nasi Kucing Fatmawati, menjalankan metode yang unik dalam menghadapi “gangguan” tersebut. Suatu cara unik, tanpa kekerasan, tanpa biaya tapi dampaknya yang diluar kebiasaan. Untuk rinci hal ini, silahkan anda mengorek sendiri dari pemiliknya langsung di Angkringan Fatmawati. Dijamin, akan dibeberkan rahasia2nya.

  4. Marketing, adalah kunci dari setiap bisnis. Dan strategi marketing dari Angkringan Nasi Kucing Fatmawati, cukup unik dan terbukti efektif, hingga dimuat di koran Tempo, diliput beberapa stasiun TV swasta, plus terbukti dari banyaknya pelanggan hingga 150-an orang tiap malam. Dan sebagianya adalah pelanggan setia yang berasal dari belahan Jakarta yang lain (Ciledug, Depok, Priuk, Bekasi, dst) yang senantiasa hadir di Angkringan. Hanya saja, sayangnya, untuk poin ini penulis dititipi pesen oleh pemilik Ankringan supaya tidak membeberkanya di internet. Karena akan menghilangkan “greget” dan penjiwaan terhadap konsep marketing yang unik ini. Dan juga karena pengelola Angkringan Nasi Kucing Fatmawati ini membagi-bagikan konsep marketing uniknya di Angkringanya. Bagi anda yang ingin memulai atau mensukseskan bisnis kuliner anda, maka sharing di Angkringan ini akan bermanfaat. Dan hebatnya lagi, anda mendapatkan jurus-jurus ampuh marketing unik ini hanya cukup dengan jajan di Angkringan. Jauh lebih murah dengan dibanding biaya mengikuti seminar2 formal.

  5. Sering kita mendengar resep sukses adalah FOCUS pada satu hal. Dan para pemilik Angkringan Nasi Kucing Fatmawati ini, terbukti sukses di 2 hal; musik dan bisnis kulinernya. Mau bukti, silahkan lihat sendiri kiprah para pemilikya dalam bermusik dengan band-nya yang bernama; DREAMER.

  6. Cita rasa produk khas SOLO. Bicara rasa memang tergantung selera dan berbeda-beda, relatif. Untuk masalah rasa, memang sulit digambarkan dengan kata-kata maupun image. Ada satu metode yang efektif, yakni mengalami sendiri. Jadi saran saya, cobalah rasakan jajanan-makanan di 2-3 Angkringan yang lain terlebih dahulu. Setelah itu, kunjungilah Angkringan Nasi Kucing Fatmawati. Dijamin anda akan merasakan “MAK NYUSSSSS” Sensai kepuasan yang mantab deh!

  7. Terakhir, alasan yang paling narsis, yang sangat subyektif. Kenapa Angkringan Nasi Kucing Fatmawati adalah yang terbaik, karena para punggawanya tidak saja dekat & akrab dengan penulis secara fisik (juga karena tetanggaan di negara asalnya; GEMOLONG), juga secara hati memang akrab dan dekat. Dan sensasi terhadap pemilik Angkringan Nasi Kucing Fatmawati begini ini, ternyata juga dirasakan oleh banyak orang.
Itulah 7 keunikan dan alasan kenapa Angkringan Nasi Kucing Fatmawati dinobatkan menjadi THE BEST ANGKRINGAN IN JAKARTA. Dan tentu saja 1 hal yang sangat penting; Itu semua adalah versi penulis.









Sejarah Angkringan


 
 Sejarah angkringan memang bermula dari upaya menaklukkan kemiskinan usaha ini konon dimulai pada tahun 1950-an oleh mbah pairo karena tidak ada lahan yang subur di desanya di kecamatan Cawas, Klaten (jateng). Awalnya para pedagang minuman dan makanan kecil ini tidak menggunakan gerobak melainkan pikulan mereka dulu disebut pedagang hik (dibaca Hek). Nama hik bermula pada tradisi malam selikuran (malam ke21) di Keraton Surakarta, pada malam tersebut  kota berhiaskan lentera (ting-ting) yang antara lain dibawa para pedagang makanan para pedagang itu biasa berteriak Hiik......iyeeekk.... sampai sekarang istilah hik masih dipakai di Solo. Namun di Yogya mereka populer dengan nama angkringan atau warung kucing 

Nama angkringan itu sendiri diambil dari bahasa jawa yaitu ngankring yang artinya duduk dengan posisi salah satu kaki lebih tinggi dari kaki yang lainnya. Di dalam budaya jawa itu sendiri, cara duduk seperti ini biasanya tidak diperbolehkan karena dianggap tidak etis apalagi bila dilakukan pada saat makan selain nama angkringan, ada juga beberapa orang yang menyebut angkringan dengan nama warung kucing atau kucingan. Kata kucingan konon muncul dikarenakan nasi yang dijual sebagai bagian dari salah satu produk yang dijual di sana mirip dengan cara kebanyakan orang memberikan makan kepada kucing. Porsi nasinya kira-kira hanya 3 kali suapan dengan pasangan lauk berupa sambel dan ikan teri seperti makanan untuk kucing.

Adapun produk-produk yang dijual di angkringan ini kalau dilihat sebenarnya bukanlah makanan yang cepat saji karena meskipun konsumen dapat langsung mengkonsumsi makanan atau minuman yang telah tersaji di sana semenjak warung ini dibuka, akan tetapi makanan atau minuman tersebut tetap membutuhkan proses yang memakan waktu sebelum dijual. Sebut saja nasi lengkap dengan sambalnya, aneka gorengan seperti tempe, tahu, bakwan, pisang, dan lain-lainnya, berbagai cemilan seperti kacang, krupuk, marning jagung, serta tak ketinggalan adanya sate hati ayam dan sate usus serta baceman kepala ayam dan tahu. Khusus mengenai minuman, yang menjadi kekhasan tersendiri ialah minuman atau disebut wedang jahe. Selain tentunya minuman yang lain seperti es teh, es jeruk , es jahe susu, kopi panas maupun air putih. Hidangan yang disajikan tidak sama kompletnya antara angkringan satu dengan angkringan yang lainnya. Namun yang jelas angkringan mudah dikenali karena tetap dengan ciri khasnya yaitu gerobak kayu, minum-minuman dengan harga yang relatif murah, dan tiga buah ceret di sebelah tempat makanan, serta bungkusan nasi kecil dengan harga Rp 600 yang membuat kekhasan bagi pedagang angkringan.

Angkringan Vs Lesehan Jogja

Ketika malam tiba – Jogja no yoru – memberi suasana tersendiri bagi para penikmat makanan. Berbagai jajanan malam mulai digelar termasuk penjual angkringan dan lesehan. Salah satu kawasan yang populer adalah di Jalan Wongsodirjan, di sisi Stasiun KA Tugu, tak jauh dari Malioboro.

Beberapa pedagang wedang (minuman panas) berderet di ruas Jalan Wongsodirjan . Para pelanggan duduk lesehan di sepanjang kaki lima di seberangnya. Dagangan utama adalah minuman panas, dengan berbagai makanan ringan sebagai pendampingnya.

Minuman yang paling banyak disukai anak-anak muda pelanggannya adalah kopi jos, yaitu segelas kopi panas yang dicemplungi arang membara. Tersedia pula nasi kucing dan berbagai lauk sederhana. Yang dimaksud nasi kucing adalah nasi dalam porsi kecil, dengan sambal trasi goreng, dibungkus daun pisang dan koran.

Di Alun-alun Utara dan Alun-alun Selatan Kraton Ngayogyakarta juga banyak pedagang wedang ronde, jagung bakar, dan jajanan lain pada malam hari.

Angkringan Pak Man (bergantian dengan Pak Alex) > Jl. Wongsodirjan, di sisi Stasiun KA Tugu, 0815 78487778: Direkomendasikan oleh Dadi Krismatono. Tempat lain yang direkomendasikan Dadi adalah Angkringan Pak Min di ujung Selatan Jalan Gejayan. Masakannya pedas, lezat, murah-meriah. Di halaman Pakualaman juga ada Angkringan Pak Mul yang terkenal.

Orang Jawa suka makan sambil duduk bersila di tikar yang ditebar di lantai. Cara ini umum disebut sebagai lesehan. Nostalgia cara makan santai dan bohemian ini sekarang justru membuat banyak orang menyukai gaya makan lesehan seperti itu.

Pada malam hari, di kedua sisi Jalan Malioboro, bermunculan puluhan pedagang makanan dengan gaya lesehan. Kebanyakan menawarkan sajian gudeg dan ayam goreng, disertai pilihan minuman panas dan dingin.

Di masa lalu, banyak wisatawan enggan makan di warung-warung lesehan ini karena ulah beberapa pedagang yang nakal. Sekarang, jangan khawatir lagi! Mereka semua sudah memasang harga makanan secara jelas, sehingga kita tidak dapat lagi dipermainkan dengan penetapan harga yang semena-mena.

Banyak pengamen yang ikut memeriahkan warung-warung lesehan itu. Rata-rata warung lesehan menyajikan makanan yang cukup baik. Beberapa bahkan sangat direkomendasikan.

Siapa sih yang tidak tahu "Angkringan"

Angkringan (berasal dari bahasa Jawa ' Angkring ' yang berarti duduk santai) adalah sebuah gerobag dorong yang menjual berbagai macam makanan dan minuman yang biasa terdapat di setiap pinggir ruas jalan di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Di Solo dikenal sebagai warung hik ("hidangan istimewa a la kampung") atau wedangan. Gerobag angkringan biasa ditutupi dengan kain terpal plastik dan bisa memuat sekitar 8 orang pembeli. Beroperasi mulai sore hari, ia mengandalkan penerangan tradisional yaitu senthir, dan juga dibantu oleh terangnya lampu jalan. Makanan yang dijual meliputi nasi kucing, gorengan, sate usus (ayam), sate telur puyuh, keripik dan lain-lain.

Minuman yang dijualpun beraneka macam seperti teh, jeruk, kopi, tape, wedang jahe dan susu. Semua dijual dengan harga yang sangat terjangkau. Meski harganya murah, namun konsumen warung ini sangat bervariasi. Mulai dari tukang becak, tukang bangunan, pegawai kantor, mahasiswa, seniman, bahkan hingga pejabat dan eksekutif. Antar pembeli dan penjual sering terlihat mengobrol dengan santai dalam suasana penuh kekeluargaan.  Angkringan juga terkenal sebagai tempat yang egaliter karena bervariasinya pembeli yang datang tanpa membeda-bedakan strata sosial atau SARA. Mereka menikmati makanan sambil bebas mengobrol hingga larut malam meskipun tak saling kenal tentang berbagai hal atau kadang berdiskusi tentang topik-topik yang serius. Harganya yang murah dan tempatnya yang santai membuat angkringan sangat populer di tengah kota sebagai tempat persinggahan untuk mengusir lapar atau sekedar melepas lelah.